Strategi Baru Kalahkan Biden Di Pilpres

Trump Mulai Lirik Pemilih Kulit Hitam

Donald Trump. Foto: Gage Skidmore
Donald Trump. Foto: Gage Skidmore

RM.id  Rakyat Merdeka – Selama ini, Donald Trump terkenal enggan menjalin hubungan dengan komunitas kulit hitam. Dia bahkan terkenal rasis. Namun di tahun Pemilu ini, mantan Presiden Amerika Serikat (AS) itu mencoba meraih simpati warga AS keturunan Afrika.

Hanya ada sedikit bukti bahwa Trump membuat terobosan signifikan dalam menggalang dukungan pemilih kulit hitam.

Pasalnya, menurut jajak pendapat, mereka masih banyak mendukung capres Partai Demokrat Presiden Joe Biden. Na­mun, perubahan kecil sekalipun dapat mengubah persaingan dengancara yang tidak terduga.

Bagi Biden, risiko terbesar bukanlah sikap pemilih kulit hitam yang lebih memilih Trump. Tapi lebih bermasalah jika pemilih tersebut frustrasi karena tidak adanya kemajuan dalam gerakan keadilan rasial. Dan, mereka memilih golput.

Di beberapa negara bagian dengan tingkat perpecahan palingtipis yang dapat menentukan pemilu tahun depan, termasuk Georgia, Pennsylvania dan Michigan, bahkan perubahan ke­cil dalam jumlah pemilih dapat mempengaruhi hasil pemilu.

Secara nasional, hanya 50 persen pemilih berkulit hitam yang mengatakan akan mendukung Biden dalam jajak pendapat AP-NORC pada Desember 2023. Angka ini turun dibanding jajak pendapat Juli 2021 di angka 88 persen.

Pergeseran tersebut menunjukkan penurunan besar. Namun pada saat yang sama, hanya 25 persen pemilih berkulit hitam yang mengatakan bahwa mereka memiliki pandangan positif terhadap Trump. Berdasarkan hasil ini, para penasihat kampanye Trump optimis bisa melakukan perubahan yang akan merusak keunggulan Partai Demokrat di kalangan pemilih kulit hitam.

“Kita akan mengubah basis Partai Demokrat dalam satu generasi. Peluang ini tidak akan kami lewatkan,” ujar Chris LaCivita, penasihat senior kampa­nye Trump.

Sementara pengamat politik AS, Cornell Belcher mengaku, tidak terkejut jika Biden saat ini menunjukkan kinerja yang buruk di kalangan pemilihmuda dan pemilih kulit berwarna. “Saya tidak panik karenaBiden turun 15 poin. Itulah gunanya kampanye,” ujarnya.

Belcher menilai, Trump hampirtidak bisa dengan cepat mengubah imejnya. Apalagi, baru bulan ini, dia mengejek nama lahir saingannya dari Partai Republik, Nikki Haley, dan berulang kali menyebut putri imigran kelahiran Amerika dari India sebagai “Nimbra.”

Ketika dia memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) di New Hampshire pekan lalu, Senator Tim Scott, satu-satunya anggota Partai Republik berkulit hitam di majelis tersebut, men­jadi penarik perhatian publik di saat Trump berpidato. Scott termasuk di antara mereka yang sering disebut-sebut sebagai calon Wakil Presiden Trump.

Berbeda dengan upaya Par­tai Demokrat di masa lalu, tim kampanye Biden memilih strategi keterlibatan dini dengan konstituen inti seperti pemilihkulit hitam. Kampanye ini melakukan investasi besar pada media keturunan Afrika-Amerika. Biden dan Wakil Presiden Kamala Harris disebut tidak akan berhenti sampai memperoleh setiap suara, karena taruhannya sangat besar.https://nanasapel.com/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*